| dc.description.abstract | Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan komoditas unggulan Indonesia
yang mendukung perekonomian nasional. Salah satu kendala utama dalam
budidayanya adalah gulma, yang dapat menurunkan hasil Tandan Buah Segar (TBS)
hingga 80% jika tidak dikendalikan. Pengendalian gulma, terutama secara kimiawi,
menjadi penting dalam menunjang produktivitas dan efisiensi operasional kebun.
Penelitian ini dilaksanakan di Divisi I Kebun Marike, PT Langkat Nusantara Kepong,
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada Maret–April 2025. Pendekatan yang
digunakan adalah deskriptif, dengan pengumpulan data sekunder meliputi teknik
pengendalian gulma, rotasi kerja, dan rincian biaya (alat, bahan, tenaga kerja).
Pada metode chemis piringan, biaya per hektar menurun dari Rp 139.834.197 (Rp
75.749) di tahun 2023 menjadi Rp 51.312.185 (Rp 58.776) hingga Juli 2024.
Penghematan ini dicapai dengan hanya menggunakan herbisida Prima Up tanpa
tambahan Weedsolution dan Spreader seperti tahun sebelumnya. Sementara itu, pada
metode chemis gawangan, biaya per hektar juga mengalami penurunan dari Rp
160.371.252 (Rp 78.536) pada tahun 2023 menjadi Rp 96.174.487 (Rp 68.160)
hingga Agustus 2024. Penurunan ini disebabkan oleh penyederhanaan penggunaan
herbisida, di mana hanya Centalon yang digunakan sepanjang tahun 2024. | en_US |