| dc.description.abstract | Panen merupakan salah satu tahap paling menentukan dalam proses produksi
kelapa sawit karena berpengaruh langsung terhadap kuantitas dan kualitas hasil.
Kinerja pemanen menjadi faktor penting dalam pencapaian produktivitas yang
optimal. Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan menerapkan sistem premi
sebagai bentuk penghargaan atas kinerja yang baik, serta sistem denda sebagai
sanksi atas pelanggaran yang dilakukan selama proses panen. Oleh karena itu,
penelitian ini penting dilakukan untuk mengevaluasi implementasi premi dan denda
panen terhadap kinerja pemanen, agar dapat dijadikan dasar kebijakan yang lebih
tepat dan terarah dalam pengelolaan tenaga kerja panen.
Penelitian ini dilaksanakan di PTPN IV Regional I Kebun Gunung Para pada bulan
Mei hingga Juni 2025. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. Seluruh populasi pemanen yang berjumlah 27 orang
dijadikan sampel dengan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan
melalui penyebaran kuesioner secara langsung dan dianalisis menggunakan
perangkat lunak SPSS. Data yang dianalisis meliputi data primer dan sekunder.
Data primer diperoleh dari hasil observasi dan pengisian angket oleh para pemanen,
yang selanjutnya diuji melalui uji validitas, reliabilitas, uji asumsi klasik
(normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas), regresi linear berganda, uji
t (parsial), serta uji koefisien determinasi (R²). Sementara itu, data sekunder berupa
catatan premi dan denda bulanan serta data absensi pemanen sejak Januari 2024
hingga Juni 2025 digunakan sebagai data pendukung dalam analisis.
Sistem premi dan denda panen di PTPN IV Kebun Gunung Para telah mengikuti SOP perusahaan (SE No. MBT/SE12/2018), yang menetapkan standar basis panen,
premi TBS dan brondolan, serta sanksi. Namun, hasil uji statistik menunjukkan
bahwa premi panen tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemanen (sig.
0,812 > 0,05; t hitung 0,240 < t tabel 2,060), sedangkan denda panen berpengaruh
signifikan terhadap kinerja (sig. 0,000 < 0,05; t hitung 9,803 > t tabel 2,060). Ini
menunjukkan bahwa sistem hukuman (denda) lebih efektif dalam mendorong
kinerja dibandingkan sistem penghargaan (premi). | en_US |