| dc.description.abstract | Perkembangan industri yang bergerak maju dengan pesat akan menuntut
penyediaan energi yang cukup besar pula, terlebih lagi pada negara negara
berkembang. Hal ini mengakibatkan dunia usaha saling bersaing untuk
meningkatkan produktivitas baik dari segi sumber daya manusia, waktu maupun
dari segi produksinya. Semua peningkatan itu memerlukan tingkat keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) yang lebih tinggi. Oleh karena itu peranan K3 semakin
penting. Faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal yang sangat
penting atau boleh dikatakan kebutuhan pokok dari setiap perusahaan atau industri,
bahkan merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi industri–
industri besar pada saat ini, dengan sasaran agar keselamatan kerja menjadi
perhatian utama setiap karyawan.
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kebun Lama PT. Perkebunan Nusantara I Kota
Langsa Provinsi Aceh. Waktu penelitian, mulai dari bulan September – November
2023. Metode yang digunakan yaitu Analisis Deskriptif Kualitatif. Metode
pengambilan sampel diambil menggunakan teknik sampel jenuh. Populasi dalam
penelitian ini adalah karyawan pemanen Kebun Lama PT. Perkebunan Nusantara I
dengan total sampel 45 orang.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 8 tahapan pekerjaan yang diteliti
pada kegiatan panen kelapa sawit yaitu Persiapan Alat Panen, Pemotongan pelepah
sawit, Pemotongan tandan buah kelapa sawit, Pemotongan pelepah menjadi dua
bagian, Pengumpulan pelepah kegawangan mati, Pemotongan tangkai tandan sawit,
Pengutipan brondolan, Pengambilan buah menggunakan gancu untuk diangkat
keatas kereta sorong. Berdasarkan hasil analisis identifikasi HIRA (Hazard
Identification Risk Assessment) dari 8 tahapan pekerjaan yang diteliti didapatkan
13 potensi bahaya dan risiko yang teridentifikasi. Dan penilaian risiko sebelum dan
setelah dilakukan rekomendasi pengendalian mengalami penurunan. Pada
pekerjaan panen sebelum dilakukan rekomendasi pengendalian memiliki 0 %
extreme, 7,69 % high risk, 61,54 % mederate risk dan 30,77 % low risk. Setelah
dilakukan rekomendasi pengendalian menjadi 0% extreme, 0% high risk, 7,69 %
moderate risk dan 92,31 % low risk. Dan rekomendasi pengendalian yang diberikan
berdasarkan hirarki pengendalian yaitu eliminasi, substitusi, pengendalian teknis,
administratif, dan penyediaan alat pelindung diri. | en_US |