| dc.description.abstract | Penyerbukan bunga atau yang sering disebut dengan istilah pollinasi merupakan
proses pemindahan polen (serbuk sari) dari bunga jantan ke bunga betina.
Perontokan polen pada perkebunan swasta maupun nasional umumnya masih
dilakukan secara manual hal dinilai masih memiliki kelamahan karna dengan
tenaga manusia dan gerakan pengguncangan yang tidak konstan menyebabkan
jumlah polen yang terlepas dari spiklet tidak optimal, oleh sebab itu perlu
diciptakan sebuah alat untuk memaksimalkan jumlah polen guna mendukung
proses Assisted Pollination (aspol) dan Hatch & carry.
Penelitian ini bertujuan untuk membuat prototipe mesin perontok polen (serbuk
bunga jantan anthesis) kelapa sawit. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam
tugas akhir ini adalah menyusun tahapan kegiatan dalam bentuk diagram alir,
dengan tujuan agar tindakan yang dilakukan lebih terarah dan terkontrol serta
sebagai pedoman pelaksanaan tugas akhir agar target yang diharapkan dapat
tercapai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Institut Teknologi Sawit
Indonesia (ITSI) Medan, Sumatera Utara. Waktu penelitian mulai pertengahan Juli
2024 sampai dengan Oktober 2024.
Dari hasil penelitian ini membandingkan metode manual dan dua mesin prototipe
dalam perontokan polen kelapa sawit. Metode mesin protipe 2 menghasilkan polen
terbanyak (18,76) tetapi dengan berat kotoran (5,07 g), sedangkan prototipe 1 dan
manual lebih bersih dengan berat kotoran 4,82 g dan 3,73 g. Prototipe 1 memiliki
persentasi polen mati (12,35 %) dan persentasi hidup nya (87,6%), pada prototipe
2 persentasi polen mati (13,73 %) dan persentasi polen hidup nya (86,2 %) sedang
kan manual memilik perssentasi polen mati(16 %) dan persentasi polen hidup
(83,8%), sementara viabilitas polen tetap tinggi pada semua metode (≥87,6%).
Mesin perontok terbukti lebih efisien dalam menghasilkan polen bersih dengan
viabilitas optimal, menjadikannya alternatif yang lebih baik untuk penyerbukan
kelapa sawit. | en_US |