KAJIAN LOSSES BRONDOLAN KELAPA SAWIT (Elaeis gueneensis Jacq.) DI KEBUN SAWIT SEBERANG PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IV REGIONAL II
Abstract
berang PT. Perkebunan Nusantara IV Regional II. Brondolan memiliki rendemen
minyak lebih tinggi (40–45%) dibandingkan tandan buah segar (20–25%), sehingga
apabila tidak terkutip akan menimbulkan kerugian. Penelitian dilaksanakan pada
bulan April–Mei 2025 menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK)
untuk piringan dan deskriptif kuantitatif untuk Tempat Pengumpulan Hasil (TPH),
dengan data primer dan sekunder yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa topografi berpengaruh signifikan terhadap
tingkat losses. Kehilangan brondolan di piringan rata-rata 0,030 kg/pokok pada
lahan datar, lebih rendah dibandingkan bergelombang (0,051 kg/pokok) dan bukit
(0,054 kg/pokok). Di TPH, kehilangan rata-rata 0,27–0,35 kg/TPH. Total kerugian
ekonomi tahunan akibat losses diperkirakan mencapai Rp 905.038.674,96, dengan
estimasi kehilangan hasil sekitar 20.801,54 kg/ha/bulan. Hal ini menegaskan
perlunya peningkatan pengutipan brondolan, pengawasan panen, serta perbaikan
manajemen lapangan untuk menekan kerugian perusahaan.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa losses brondolan berpotensi
menimbulkan kerugian yang signifikan bagi perusahaan. Oleh karena itu,
diperlukan strategi untuk menekan angka losses, antara lain dengan meningkatkan
pengawasan panen, menambah tenaga khusus pengutip brondolan, menjaga
kebersihan piringan dan TPH dari gulma, serta memperbaiki sistem panen pada
areal bergelombang dan berbukit. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan
efisiensi panen meningkat dan kerugian ekonomi akibat losses dapat ditekan.
