PENGARUH KOMPOS KOTORAN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L. Rendle) SEBAGAI TANAMAN SELA PADA GAWANGAN MATI TANAMAN SAWIT FASE TANAMAN MENGHASILKAN
Abstract
Pada jarak tanam normal kelapa sawit memiliki ruang terbuka ± 75 % Pada TBM 1
dan 60 % pada TBM 2 dari total luas area tanam pada lahan budidaya. Adanya
ruang terbuka ini diakibatkan oleh kondisi organ tanaman yang masih dalam tahap
pertumbuhan, mulai dari pertumbuhan panjang pelepah yang tajuknya belum saling
bersentuhan, hingga pertumbuhan akar yang belum menyebar luas. Kondisi tersebut
merupakan peluang untuk memanfaatkan ruang tanam kelapa sawit untuk ditanami
tanaman sela.
Penelitian dilaksanakan di kebun Praktek Kelapa Sawit TM (Tanaman
Menghasilkan) Kampus ITSI Medan, Deli Serdang, Sumatera Utara. Waktu
penelitian selama 4 bulan dari bulan Juli 2023 sampai dengan bulan November 2023. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial
dengan satu faktor yaitu Kompos Kotoran Sapi. Ulangan dilakukan sebanyak 6 kali
dengan 4 taraf yaitu K0 = Kontrol/ Tanpa Perlakuan, K1 = 200g Kompos Kotoran
Sapi, K2 = 400g Kompos Kotoran Sapi dan K3 = 600g Kompos Kotoran Sapi.
Analisis data dengan sidik ragam Anova dengan uji lanjut menggunakan Uji
Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Perlakuan K4 = 600 gr kompos kotoran
sapi menunjukkan hasil yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya
terhadap pertumbuhan tanaman sela. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa
perlakuan pemberian kompos kotoran sapi terhadap tanaman sela berpengaruh
sangat nyata pada parameter jumlah anakan, dan berpengaruh nyata pada jumlah
daun, berat basah akar namun pada parameter tinggi tanaman dan berat kering akar
berpengaruh tidak nyata.
