| dc.description.abstract | Salah satu kendala dalam mengukur tinggi tanaman kelapa sawit di TBM adalah
luasnya area perkebunan dan medan yang sulit, seperti rawa atau perbukitan, yang
membuat pengukuran manual memakan waktu, membutuhkan banyak tenaga
kerja, dan sering kali kurang akurat. Selain itu, variasi tinggi tanaman dan
keterbatasan tenaga ahli di lapangan turut menyulitkan pengambilan data yang
konsisten. Dengan menggunakan SIG, pengelola perkebunan kelapa sawit dapat
mengatasi permasalahan tersebut sekaligus meningkatkan efisiensi, akurasi, dan
kualitas data untuk pengambilan keputusan strategis. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui efektifitas dan akurasi pengukuran tinggi tanaman
menggunakan SIG, penginderaan jauh dan secara manual.
Penelitian dilaksanakan di Perkebunan Kelapa Sawit PTPN IV Regional 1 Kebun
Sei Putih pada Maret-Mei 2025. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan
Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor yaitu: 1. Metode
Penentuan Tinggi Tanaman (T) terdiri dari T1 : Penentuan secara manual dan T2 :
Penentuan secara digital. 2. Umur TBM (U) terdiri dari U1 : TBM 2 dan U2 : TBM
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan metode pengukuran tinggi
tanaman secara manual sama baik dengan metode pengukuran secara digital
dengan rata-rata pertumbuhan tanaman secara manual 316,34 cm dan secara
digital yakni 310,75 cm. Pengukuran tinggi tanaman pada umur TBM 2 dan TBM
3 mengindikasi adanya perbedaan yang sangat singnifikan, TBM 3 menunjukkan
pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi dengan rata-rata tinggi tanaman kelapa
sawit yakni 432,81 cm dibandingkan dengan TBM 2 yaitu 192,28 cm. Pengukuran
tinggi tanaman secara periodik memberikan informasi yang jelas dan akurat
mengenai perkembangan pertumbuhan blok tanaman dari waktu ke waktu. | en_US |