| dc.description.abstract | tebang dan tidak produktif, satu batang pohon sawit tua akan menghasilkan 10 liter
nira setiap hari. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei 2024 hingga Juli 2025 di
Laboratorium Terpadu. Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) Medan. Penelitian
ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan
dan 3 ulangan. perlakuan terdiri dari dua faktor yaitu: lama waktu pengadukan
menggunakan shaker dan suhu Sehinggah diperoleh 27unit percobaan. Setiap unit
terdiri atas satu sampel fermentasi. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik
Ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji jarak Duncan pada taraf signifikansi 5%
jika terdapat perbedaan nyata. Parameter yang diamati meliputi lama pengadukan
menggunakan shaker dan suhu berpengaruh nyata terhadap kadar bioetanol, densitas,
rendemen, dan pH akhir fermentasi.
Fermentasi nira kelapa sawit paling optimal terjadi pada suhu 30°C dengan lama
pengadukan 1 jam. Kondisi ini menghasilkan kadar bioetanol tertinggi sebesar
44,67%, rendemen 13,23%, densitas terendah (0,924 gr/ml), dan pH akhir paling
stabil (4,51). Efisiensi fermentasi menurun secara signifikan jika waktu pengadukan
diperpanjang menjadi 2–3 jam atau suhu ditingkatkan hingga 35–40°C, karena
peningkatan kadar oksigen terlarut dapat mengganggu kondisi anaerobik yang
dibutuhkan Saccharomyces cerevisiae, serta menurunkan aktivitas enzimatis akibat
stres suhu. Terdapat hubungan berbanding terbalik antara kadar bioetanol dengan
densitas dan penurunan pH: semakin tinggi kadar etanol yang dihasilkan, maka
densitas larutan semakin rendah dan pH akhir lebih stabil. Temuan ini menegaskan
pentingnya kontrol suhu dan durasi pengadukan dalam menghasilkan bioetanol
secara efisien dan berkualitas. | en_US |